Restoran bernuansa alam, apa benar ramah anak?

Hai moms, apa lagi sih yang jadi rekreasi kita selain waktu khusus dengan keluarga? Nah, ini dia tiga resto bernuansa alam yang ada di Yogyakarta yang bisa dijadikan pertimbangan untuk berekreasi singkat, tentunya kenyamanan dan keamanan anak menjadi perhatian utama.

1. Lemah Ledok Garden Resto

Beralamat di Jl Solo Km 12,5 Kalasan Purwomatani, Sleman mengemas konsep garden resto dengan ornamen-ornamen traditional khas Jawa dan berbagai makanan dengan cita rasa khas Yogyakarta.

Selain di dalam joglo/pendopo, meja juga disediakan di ruang terbuka. Area ini biasa digunakan juga untuk resepsi pernikahan. Oiya, rumah makan ini juga menyediakan paket pernikahan.

Area bermain anak ada di sudut paling belakang resto ini, tapi sayangnya fasilitas bermain yang ada tidak cukup terjaga dan kurang pengamanan. Dengan letak yang seperti ini, cukup sulit untuk bisa memantau anak bermain jika orangtua duduk di meja yang cukup jauh letaknya. Namun, anak-anak juga bisa berjalan-jalan di jalan-jalan setapak ini. Bisa juga melihat kolam yang ada di beberapa sisi resto. Alat musik tradisional juga disediakan lengkap.

2. West Lake Resorts and Restaurants

Dibangun di area yang cukup luas. Letaknya di Jl Ringroad Barat, Bedog, Trihonggo, Gamping. Terdapat satu ruang terbuka utama resto, namun ada juga pendopo-pendopo Yang disediakan di sekeliling danau.

Resto ini sangat nyaman untuk berkongko lama-lama. Letak yang berjauhan dan hijaunya suasana membuat pengunjung betah. Pramusaji biasa mengantarkan pesanan memakai sepeda dan gerobak. Tersedia tempat cuci tangan dan sabun di setiap meja pendopo, dan ini sangat membantu untuk ibu-ibu yang menikmati hidangan sambil momong anak 😉. Harga di sini lumayan tinggi, akan terbayar jika seharian di sana, memanfaatkan kesejukan dan ketenangannya.

3. Jiwangga Resto

Terletak di Jl Terbaik 1, Bromonilan, Purwomatani di tepian sungai. Jiwangga adalah singkatan dari Jiwa dan Raga. Gambar di atas adalah salah satu spot joglo yang ada. Di dalamnya terdapat juga kloset duduk. Menurut keterangan salah satu pramusaji, Jiwangga memang dikonsep menjadi resort. Namun untuk sementara baru bisa menjalankan restaurantnya.

Tata letak nya cukup melelahkan untuk kita bolak-balik memesan menu. Para pramusajipun terlihat sangat sibuk naik turun melayani tamu ataupun mengantar pesanan. Kasian juga ya, kalau tetiba pelanggan ingin pindah tempat 😁. Resto ini masih tergolong baru, jadi memang mungkin sistem pelayanannya belum diatur maksimal. Walaupun sebenarnya sudah benar bahwa pelayan harus melayani tamu, tapi cukup kasihan juga melihatnya.

Bagi anak-anak juga kurang aman untuk naik turun, kecuali moms stay di atas. Di sana ada spot luas dengan ornamen khas Jawa Bali. Tempat cuci tangan juga terbatas. Tapi untuk keteduhannya, gak kalah deh!

Demikian moms sedikit ulasan tentang tempat ndulang anak zaman now. Semoga bermanfaat!

Advertisements

Belajar Parenting dari JK Rowling

“Thanks for my childhood.” Kira-kira begitulah kalimat saya jika bertemu dengannya. Novel serial Harry Potter terjual 250 juta copy di seluruh dunia. Itu artinya, jika dipukul rata, 1 dari 15 orang di dunia adalah pengikut serial mengagumkan ini. Saya membaca pertama kali tahun 2001 and that was awesome. Bagaimana mungkin anak-anak yang kebanyakan adalah penggemar komik bergambar, berbondong-bondong beralih pada novel tebal tak bergambar?!

Saya membaca ulang novel ini di usia dan peran yang sama sekali berbeda. Dan bukannya bosan, saya seperti menemukan sisi-sisi lain yang dulu tidak menarik. Sudut imajinasi saya berpindah dari anak kepada orangtua. Oh… I see, itulah mengapa komunitas-komunitas yang menyebut dirinya wizard ataupun muggle ini begitu long lasting.

Lumos 🌟

1. It takes a community to raise a child (also inspired by Paul L. Atanta, principal of http://www.kawantumbuh.com)

Ada berapa Weasley yang berdiri di sana? Keluarga Weasley adalah keluarga yang secara sengaja diciptakan oleh JK Rowling menjadi keluarga pengganti untuk Harry. Selain Ron Weasley adalah sahabatnya, Molly juga begitu memperhatikan Harry..and their whole family.

Anak-anak tidak cukup hanya bertumbuh pada lingkungan keluarga inti. Dia perlu lingkungan yang lebih besar untuk menerima dan mendukungnya supaya menjadi pribadi yang penuh. Kenangan masa kanak-kanak akan menjadi kenangan yang kuat dan dibawa sampai kapan pun.

2. Lingkungan terbaik untuk anak bertumbuh adalah keluarga. (Standard Nasional Pengasuhan Anak Indonesia)

Harry kecil diasuh oleh keluarga bibinya. Walaupun banyak teman orang tuanya yang menyayanginya, Harry diwajibkan tinggal bersama Aunt Petunia hingga usia 17th. Dan walaupun ia mendapat tempat yang lebih layak disebut “rumah”, ia tetap diwajibkan pulang kepada bibinya.

3. Orang tua menunda kebutuhan emosinya

Prof Dumbledor adalah figur yang sangat disukai banyak orang. Saya yakin para pembaca novel HP menitikkan airmata pada lembar-lembar yang mengisahkan kematiannya. Well, dia adalah orang yang selalu meletakkan kebutuhan murid di atas semuanya. Apa tujuanmu, bagaimana rencanamu, ceritakan kegagalanmu tanpa ada yang pernah mendengar keluhannya tentang masa lalu keluarganya yang suram. Emosi yang matang tidak menampakkan luka batinnya yang dalam.

4. Ijinkan anak melakukan eksplorasi, menemukan solusi masalahnya sendiri bahkan kesalahan-kesalahan.

Sepanjang ketujuh novel HP, mungkin ada satu kalimat yang bisa menggambarkannya. ‘Harry tidak tahu apa yang harus dilakukannya’. Berapa banyak rencana yang disusun golden trio ini berakhir dengan tepat sasaran? Novel HP menceritakan kegagalan demi kegagalan banyak tokoh. Tapi dari penerimaan yang berlimpah itu, ia dapat mengalahkan Voldemort. Sekali lagi, bukan karena ia hebat. Tapi karena banyak orang yang mendukungnya, bahkan pada akhir hidupnya ia ditolong oleh seorang ibu yang notabene adalah musuhnya, Narcissa Malfoy.

5. Sekolah yang nyaman

Salah satu sekolah fiktif yang diimpikan jutaan anak di dunia adalah Hogwarts. Hogwarts is home. Ada banyak program-program dari sekolah ini yang memukau anak-anak. Dan di atas semua itu, ini adalah sekolah yang aman dengan para professor hebat yang melindungi dan membela murid-muridnya.

Sekian ibu, sampai bertemu di topik selanjutnya!

Nox🌌

Mamaku tengah-tengah…

Helloww mamaa… ada yang tau itu foto siapa? Hmmmtt, kalau hal-hal yang baik gini saya nggak bisa untuk nggak bagikan.

Waktu si buah hati sakit, mama tergolong orang tua yang mana nih? Yang dikit-dikit bawa ke dokter atau yang masih bertahan dengan resep mertua? (#eh). Atau… yang di tengah-tengah? Maksudnya mbak? Gini bu… Golongan tengah-tengah adalah golongan mama – mama yang dengan niat baik ingin mengindahkan nasihat2 orang tua dan internet untuk melatih daya tahan tubuh anak dengan cara: tidak memberi antibiotik, pengobatan alami atau bahkan menjadikan dokter sebagai pilihan terakhir (jadi anaknya dikasih makan dan minum yang banyak biar sembuh sendiri) tetapi dalam hati (atau sambil dilakukan) harus tau jelas sakitnya apa sehingga dokter is a must. Panjang ya definisi saya?! Capek bacanya kan gak titik-titik. Ok ambegan sek..

Persis! Saya juga gitu, mam. Yang mana mbak? Ya yang saya jelasin panjang lebar entu. 🐒 Well, serious! Continue reading “Mamaku tengah-tengah…”

Beristirahatlah sejenak…

Apakah Anda sedang berjuang membesarkan anak dengan benar dan baik? Mempelajari ilmu-ilmu “parenting” dengan semangat? Dan segala daya untuk kesuksesannya kelak?

Sebelum melangkah ke sana, Anda sebaiknya mencari jawab atas pertanyaan ini: “Seperti apa sih menjadi seorang anak?” Apakah saya tumbuh sebagai anak yang “penuh”? Apakah memori yang terlintas ketika saya memikirkan tentang masa kanak-kanak adalah memori yang hangat?

Take some time off, dear parents 🙂

To be continued…