Belajar Parenting dari JK Rowling

“Thanks for my childhood.” Kira-kira begitulah kalimat saya jika bertemu dengannya. Novel serial Harry Potter terjual 250 juta copy di seluruh dunia. Itu artinya, jika dipukul rata, 1 dari 15 orang di dunia adalah pengikut serial mengagumkan ini. Saya membaca pertama kali tahun 2001 and that was awesome. Bagaimana mungkin anak-anak yang kebanyakan adalah penggemar komik bergambar, berbondong-bondong beralih pada novel tebal tak bergambar?!

Saya membaca ulang novel ini di usia dan peran yang sama sekali berbeda. Dan bukannya bosan, saya seperti menemukan sisi-sisi lain yang dulu tidak menarik. Sudut imajinasi saya berpindah dari anak kepada orangtua. Oh… I see, itulah mengapa komunitas-komunitas yang menyebut dirinya wizard ataupun muggle ini begitu long lasting.

Lumos 🌟

1. It takes a community to raise a child (also inspired by Paul L. Atanta, principal of http://www.kawantumbuh.com)

Ada berapa Weasley yang berdiri di sana? Keluarga Weasley adalah keluarga yang secara sengaja diciptakan oleh JK Rowling menjadi keluarga pengganti untuk Harry. Selain Ron Weasley adalah sahabatnya, Molly juga begitu memperhatikan Harry..and their whole family.

Anak-anak tidak cukup hanya bertumbuh pada lingkungan keluarga inti. Dia perlu lingkungan yang lebih besar untuk menerima dan mendukungnya supaya menjadi pribadi yang penuh. Kenangan masa kanak-kanak akan menjadi kenangan yang kuat dan dibawa sampai kapan pun.

2. Lingkungan terbaik untuk anak bertumbuh adalah keluarga. (Standard Nasional Pengasuhan Anak Indonesia)

Harry kecil diasuh oleh keluarga bibinya. Walaupun banyak teman orang tuanya yang menyayanginya, Harry diwajibkan tinggal bersama Aunt Petunia hingga usia 17th. Dan walaupun ia mendapat tempat yang lebih layak disebut “rumah”, ia tetap diwajibkan pulang kepada bibinya.

3. Orang tua menunda kebutuhan emosinya

Prof Dumbledor adalah figur yang sangat disukai banyak orang. Saya yakin para pembaca novel HP menitikkan airmata pada lembar-lembar yang mengisahkan kematiannya. Well, dia adalah orang yang selalu meletakkan kebutuhan murid di atas semuanya. Apa tujuanmu, bagaimana rencanamu, ceritakan kegagalanmu tanpa ada yang pernah mendengar keluhannya tentang masa lalu keluarganya yang suram. Emosi yang matang tidak menampakkan luka batinnya yang dalam.

4. Ijinkan anak melakukan eksplorasi, menemukan solusi masalahnya sendiri bahkan kesalahan-kesalahan.

Sepanjang ketujuh novel HP, mungkin ada satu kalimat yang bisa menggambarkannya. ‘Harry tidak tahu apa yang harus dilakukannya’. Berapa banyak rencana yang disusun golden trio ini berakhir dengan tepat sasaran? Novel HP menceritakan kegagalan demi kegagalan banyak tokoh. Tapi dari penerimaan yang berlimpah itu, ia dapat mengalahkan Voldemort. Sekali lagi, bukan karena ia hebat. Tapi karena banyak orang yang mendukungnya, bahkan pada akhir hidupnya ia ditolong oleh seorang ibu yang notabene adalah musuhnya, Narcissa Malfoy.

5. Sekolah yang nyaman

Salah satu sekolah fiktif yang diimpikan jutaan anak di dunia adalah Hogwarts. Hogwarts is home. Ada banyak program-program dari sekolah ini yang memukau anak-anak. Dan di atas semua itu, ini adalah sekolah yang aman dengan para professor hebat yang melindungi dan membela murid-muridnya.

Sekian ibu, sampai bertemu di topik selanjutnya!

Nox🌌

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s